Category Here : Artikel Dosen

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH MAHASISWA DI KOS LINGKUNGAN AKPER X

Vivamus molestie gravida turpis

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PERILAKU

SEKSUAL PRANIKAH MAHASISWA DI KOS LINGKUNGAN AKPER X

 

Farida Purnamasari1, Kodrat Pramudho2, Emma Rachmawati3

 

  1. Akademi Keperawatan Keris Husada, Jakarta, Indonesia

2, 3. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana Universitas

Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

e-mail: farida.kemen@yahoo.com

 

 

Abstrak

Perilaku seks pranikah pada remaja semakin meningkat, khususnya di Indonesia. Perilaku tersebut berdampak pada kesehatan organ reproduksi dan penyakit menular seksual. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam tentang persepsi mahasiswa terhadap perilaku seksual pranikah pada mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data primer 10 mahasiswa berstatus aktif yang tinggal di kos dan tinggal dengan orang tua sebagai informan kunci. informan inti yaitu Pembantu Direktur III akademi keperawatan x serta 2 pemilik usaha kos. Hasil penelitian dengan pendekatan teori Health Belief Model menunjukkan bahwa semua persepsi mahasiswa Akademi keperawatan x  terkait perilaku seks pranikah mahasiswa di kos-kosan berada pada kategori baik, sehingga mahasiswa mampu memiliki keyakinan yang teguh untuk mengambil keputusan menolak seks pranikah di kalangan remaja yang tinggal di kos-kosan. Mahasiswa mampu mengenali faktor - faktor yang menjadi hambatan dalam bersikap. Terdapat mahasiswa yang masih tertutup untuk berani bersikap menolak terhadap perilaku seks pranikah. Keberanian bersikap terbuka mahasiswa terhadap seks pranikah remaja dipengaruhi oleh : kepribadian, cara pandang seseorang terhadap suatu obyek atau masalah, status sosial, tingkat kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, latar belakang budaya seseorang, lingkungan tempat tinggal dan tingkat kedekatan dengan teman. Pemaparan contoh kejadian nyata secara langsung atau tidak langsung berhasil memberikan keyakinan atau kemampuan diri (self efficacy) mahasiswa dalam mengambil keputusan untuk menghindari seks pranikah, dengan meningkatkan kepatuhan pada orangtua, bertanggungjawab, bersikap terbuka, peduli lingkungan, meningkatkan pemahaman agama serta keimanan, menghargai diri sendiri. Rekomendasi pada penelitian ini adalah dengan pembuatan strategi seperti pendirian layanan kesehatan konseling remaja tentang seksualitas oleh institusi dan penggalakkan program konseling teman sebaya.

 

Kata kunci : Persepsi Seks Pranikah, Seks Pranikah

 

 

Abstract

Premarital sex behavior in adolescents is increasing, especially in Indonesia. This behavior affects the health of reproductive organs and sexually transmitted disease. This research used qualitative descriptive method with primary data from ten students who lived in boarding house and lived with parents. Those students had a role as key informant in this research. X Nursing Academy Assistant Director and two owners of boarding houses had role as a core informants in this research.  The results of this research with the Health Belief Model showed that all the students' perceptions from X Nursing Academy related to premarital sex behavior of students in boarding house were in good category, so students were able to strongly reject premarital sex in boarding house environment. Students were able to recognize the factors that become obstacles in behaving. There were small numbers of student who were not open up to reject premarital sex behavior. The courage to open themselve to premarital sex is influenced by: personality, perspective on an object or problem, social status, level of concern for the environment and others, cultural background, the environment and the closeness with their friends.The explanation of real-life incidents directly or indirectly succeeds in giving students self-assurance or self-efficacy in making decisions to avoid premarital sex, by increasing adherence to parents, being responsible, being open, caring about the environment, promoting religious understanding and faith, self-respect own. The recommendations in this study were making strategies such as the establishment of adolescent counseling services on sexuality by nursing academy and the promotion of peer counseling programs.

 

Keywords: Premarital Sex Perception, Premarital Sex


 

 

 

 

 

Pendahuluan

Mahasiswa merupakan individu yang memasuki masa kuliah. Masa mahasiswa tergolong ke dalam kelompok remaja yang meliputi rentang umur 18/19 tahun sampai 24/25 tahun. Remaja adalah laki-laki atau perempuan yang belum menikah dengan batasan usia meliputi 15-24 tahun. Pada masa ini merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang diwarnai oleh pertumbuhan, perubahan, muncul berbagai kesempatan dan seringkali menghadapi risiko-risiko kesehatan reproduksi (Martens, 2006; Grant, 2005; Azinar, 2013).

 

Di Indonesia diperkirakan ada 1 juta remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah, sedangkan di seluruh dunia diperkirakan 15 juta remaja setiap tahunnya hamil, 60% di antaranya hamil di luar nikah (Hidayat dalam Tinceuli, 2010). Dari beberapa penelitian menyebutkan salah satu penyebab kehamilan di luar nikah adalah ketidakmampuan remaja mengendalikan dorongan biologis (Tinceuli, 2010).

 

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2010) mengungkapkan bahwa 7% dari 1189 remaja aborsi di Jawa Barat, dan 5% dari 922 remaja di daerah Bali hamil diluar nikah.Mereka mengaku hampir 93,7 persen pernah melakukan hubungan seks, 83 % mengaku pernah menonton video porno, dan 21,2 persen mengaku pernah melakukan aborsi.

 

Hasil kajian BKKBN tahun 2010  mengatakan bahwa rata-rata sekitar 51% dari 100 remaja di wilayah Jabodetabek  pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah di Surabaya mencapai 47%, di Bandung dan Medan 52%. Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi kita semua, tanggungjawab remaja terhadap kesehatan organ reproduksi masih kurang serta pengetahuan tentang dampak dari kurang menjaga organ reproduksi. Perilaku seks bebas di kalangan remaja berdampak pada kasus infeksi penularan HIV/AIDS, kehamilan tidak diinginkan, dan  kanker serviks.

 

Perubahan perilaku seks pranikah saat ini, masalah yang tabu menjadi hal yang biasa, seperti berciuman dan bercumbu dikalangan mahasiswa telah dibenarkan, bahkan sampai dengan perilaku free seks. Kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan mengingat dampak terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang disusul dengan tindakan pengguguran (aborsi) tidak aman, penyebaran Penularan Penyakit Seksual (PMS), HIV/AIDS sampai dengan terjadinya kematian.

 

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang mengalami perubahan segala aspek. Beberapa perubahan lingkungan menghasilkan perbedaan dalam periode transisi ini. Sebagai contoh, seorang mahasiswa sebagai remaja akhir mengalami transisi dari sekolah menengah menuju universitas yang melibatkan gerakan menuju satu struktur sekolah yang lebih besar, dan tidak bersifat pribadi; interaksi dengan kelompok sebaya dari daerah yang lebih beragam dan kadang lebih beragam latar belakang etniknya; dan peningkatan perhatian pada prestasi dan penilaiannya (Rumini dan Sundari, 2004).

 

Transisi dari sekolah menengah atas menuju universitas dapat melibatkan hal-hal yang positif. Seseorang mungkin merasa lebih dewasa, lebih banyak pelajaran yang dapat dipilih, lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama kelompok sebaya, lebih banyak kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai gaya hidup dan nilai-nilai, dan menikmati kemandirian yang lebih luas dari pengawasan orang tua. Hal ini mereka tunjukkan pada saat melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, banyak dari mereka yang memilih tinggal di kos-kosan.

 

Lokasi rumah yang berjauhan dari tempat kuliah juga membuat sebagian mahasiswa memilih kos-kosan sebagai rumah kedua. Hal negatif yang didapat dari mahasiswa tinggal di kos-kosan antara lain kurangnya pengawasan dari orang tua dan pemilik kos, ditambah letak kamar kos yang terlalu terbuka (bebas pengunjung) serta interaksi antar warga kos yang minim membuat remaja bisa melakukan segala sesuatu di wilayah teritorinya (dalam kamar), seperti melakukan hubungan seks. Suryoputro (2006)  beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya aktivitas seksual remaja adalah kurangnya pengawasan orang tua dan rendahnya pengawasan lingkungan.

 

Semakin banyaknya mahasiswa yang tinggal dilingkungan Kos, merupakan pemicu terbesar penyimpangan seksual banyak terjadi saat ini. Menurut Zuryaty (2006) dalam kehidupan mahasiswa, umumnya mereka tinggal ditempat kos yang dekat dengan kampus. Hal ini mengharuskan mereka berpisah dengan orang tuanya. Perbedaan yang mencolok terjadi adalah ketika tinggal di rumah dan ditempat kos yaitu terletak pada pengawasan orang tua, karena ditempat kos orang tua tidak dapat mengawasi anaknya secara langsung.

 

Hasil survey BKKBN (2010) jumlah penduduk berdasarkan tingkat usia 10-24 tahun, terdapat 71 juta (30%) dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2010, sebanyak 51% remaja diwilayah Jabodetabek sudah tidak perawan dan 4% responden yang mengaku melakukan hubungan seksual sejak usia 16-18 tahun, 16 % melakukan pada usia 13-15 tahun. Sedangkan tempat favorit untuk melakukan hubungan seksual adalah di rumah sebanyak 40 %, di tempat kos 30% dan di hotel 30% (www.bkkbn.or.id).

 

Hasil penelitian tentang keterpaparan remaja dengan seks pranikah menunjukan sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan, 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuannya. Pengalaman berhubungan seks dimulai sejak usia 16 -18 tahun sebanyak 44%, sementara 16% melakukan hubungan seks pada usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%) (Dewi ,2012 )

 

Sedang penelitian yang dilakukan Fadila (2013)  banun pada stikes x wilayah Jakarta Timur tahun 2012, dari 261 responden didapatkan perilaku seksual beresiko sebanyak 55,2 %, gaya hidup yang beresiko 77,4 %, tempat tinggal beresiko 47,5 %, Keharmonisan keluarga beresiko 65,2%.

 

Akademi keperawatan merupakan institusi pendidikan yang memfokuskan pada bidang kesehatan, pada perkuliahan mahasiswa telah mendapatkan mata kuliah yang membahas tentang anatomi fisiologi tubuh manusia dan kebutuhan dasar manusia khususnya Asuhan kebutuahan seksual, sedangkan pada tingkat lanjut mahasiswa mendapat mata kuliah keperawatan maternitas yang membahas tentang proses pembuahan sampai dengan persalinan, secara garis besar berhubungan dengan alat reproduksi pria dan wanita. Semakin tingginya tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap istilah-istilah reproduksi seharusnya semakin paham tentang fungsi serta resiko terhadap perilaku seks,tetapi semakin tinggi juga resiko keinginan untuk mengetahui lebih mendalam lagi tentang kesehatan reproduksi melalui berbagai media informasi terlebih media informasi internet yang mampu mengakses berbagai macam informasi, jika tidak diimbangi dengan pengawasan baik dari diri sendiri dan lingkungan ,maka hal ini merangsang pemikiran remaja untuk mencoba apa yang diketahuinya.

 

Dari hasil laporan bidang kemahasiswaan institusi Akademi Keperawatan X diperoleh hampir setiap tahun terdapat satu mahasiswa yang DO atau mengundurkan diri kerana kasus asusila. Akademi keperawatan belum pernah dilakukan penelitian mengenai perilaku seksual pranikah dikalangan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “persepsi mahasiswa terhadap perilaku seksual pranikah pada mahasiswa dikos dilingkungan akademi keperawatan x Jakarta selatan tahun 2016”.

 

Metode

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif sederhana. Pendekatan kualitatif ini dilakukan untuk menggali informasi dan menghasilkan uraian yang lebih mendalam tentang persepsi Mahasiswa Akademi Keperawatan X tentang seks pranikah mahasiswa keperawatan yang tinggal di kos – kosan.

 

Pengolahan data studi kasus intrinsik ini dilakukan oleh peneliti melalui metode deskriptif kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk simbolik, seperti pernyataan, tafsiran, tanggapan secara harfiah, lisan maupun non-verbal. Selanjutnya data dianalisis dengan cara menarik kesimpulan dan memberikan gambaran terhadap data yang terkumpul dalam bentuk uraian kalimat sehingga pada akhirnya dapat menghantarkan pada kesimpulan.

 

Semua partisipan berjenis kelamin laki – laki dan perempuan denga rentang usia 18 – 24 tahun. Sedangkan sebagai informan inti adalah ibu kos, dan pudir III. Dalam hasil penelitian ini diperoleh informan kunci sebanyak 10 mahasiswa yang terdiri dari 5 mahasiswa tinggal di kos, 5 mahasiswa tinggal dengan orang tua, adapun jumlah sampel dalam penelitian ini didasarkan pada kecukupan data sedangkan proses pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara.

 

Kegiatan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan informan kunci dengan diawali proses diskusi (FGD) dan dilakukan pada sore hari setelah jam perkuliahan selesai, bertempat di Akademi Keperawatan X. Informan kunci adalah mahasiswa akademi keperawatan X yang tinggal di kos-kosan. Sedangkan untuk informan inti, yaitu pudir I dan pudir III serta pemilik kos-kosan, dilakukan wawancara pada pagi hari, sesuai kontrak waktu peneliti dengan informan inti kecuali informan inti terkait informasi kos-kosan dilakukan pada sore hari sesuai kesiapan dari informan inti.

 

Sebagai upaya memperkuat keabsaan data dan menekan subjektivitas dalam penelitian kualitatif ini, penelitian menggunakan teknik triangulasi yaitu dengan sumber membandingkan dan mengecek kembali derajat suatu informasi yang di peroleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif

 

Hasil

Persepsi Perilaku seks Pranikah

Persepsi mahasiswa akademi keperawatan x terhadap perilaku seks pranikah khususnya yang dilakukan di kos – kosan sebagian besar cukup baik, sebagian besar dari informan menganggap bahwa perilaku tersebut sangat beresiko besar terhadap terkenanya penyakit – penyakit seksual dan bertentangan dengan ajaran agama, serta termasuk kedalam penyimpangan seksual.

 

iih iya banyak tuh bu temen saya yang parah ngelakuin gituan ama pacarnya. Pernah dia cerita dan saya suruh antar ke kos –an cowoknya… katanya pokoknya dia harus ketemu ma pcarnya.(014).”

 

“ada yang begitu malah katanya kayak yang sudah kecanduan gitu (016)..nemuin cowoknya….(017)…..awalnya Cuma biasa – biasa trus….(027)...pakai kos –kosan nya ketemuan ma pacarnya……(039)kalo udah kerja tuh biasanya gampang mau ngapa – ngapain(042.”

 

Persepsi Ancaman Terhadap Perilaku Seks Pranikah

Persepsi kerentanan merupakan sebuah pemikiran atau keyakinan seseorang mengenai perubahan kesehatan pada dirinya sebagai akibat suatu kondisi yang akan dialami. sebagian besar mahasiswa Akademi Keperawatan x menganggap bahwa perilaku sek pranikah memiliki kerentanan terhadap perubahan pribadi yang kurang sehat baik secara fisik ataupun psikologis serta memiliki kerentanan menjadi masalah masyarakat terutama dikalangan remaja yang jauh dari pantauan orang tua.

 

 “cukup ngeliat aja,… Mereka kurang mikir kali klo ntar kena penyakit….(030) Klo temen cewek saya tuh buu awalnya dipaksa ama cowoknya….. trus bis itu klo diajak janjian yaa harus ketemu gitu,… kasian sih ngeliatnya…..(021).”

 

(IP03),” bohong ama ortunya mau main kemana gitu padahal janjian ama pacarnya(015)…...dipaksa buuu kayak di ancem gitu….klo gak mau (024).”

 

Persepsi keparahan merupakan sebuah pemikiran (keyakinan) tentang bagaiman seriusnya suatu penyakit.Persepsi keparahan merupakan keseriusan suatu penyakit terhadap individu, keluarga, dan masyarakat yang mendorong seseorang untuk melakukan pencarian pengobatan dan pencegahan penyakit tersebut (Notoatmodjo,2007)

 

(IP04)”….. kecanduan.(016)..takut banget (017)...hamil (025)...dibunuh(048)”.

 

(IP08)”…. AIDS, kemauan seksnya meningkat bu……(082)”.

 

(IP09)”…. Aids bu…..Aborsi (084)hamil duluan nanti keluarga dan harga diri malu….(101)”.

 

Persepsi Harapan Terhadap Perilaku Seks Pranikah

Perubahan perilaku terjadi ketika individu merasakan adanya ancaman, namun apakah persepsi tersebut benar – benar akan mempengaruhi, karena terjadinya perubahan perilaku juga dipengaruhi oleh keyakinan individu tentang manfaat yang dirasakan, dengan adanya contoh – contoh kejadian yang mereka lihat, rasakan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

 

(IP03)”…. buat jaga diri(047)”.

 

(IP04)”… buat pengalaman..(048)”.

 

(IP06)”… buat saya sih jdi bisa sering istighfar biar gak ketularan hehe….(087)”.

 

Hasil observasi kos – kosan terpisah dengan  pemilik dengan jarak tertentu ,model seperti kontrakan, dekat keramaian, mudah dijangkau dengan kendaraan bermotor, serta berada di lingkungan padat penduduk, penghuni majemuk  ( karyawan dan siswa);

 

“tidak ada aturan khusus masalahnya tadi kan kayak kontrakan yang penting cocok harga, ada identitas,tinggal lapor RT ,ikuti aturan RT aja cukup buuu…..”. “….Lumayan buat tambahan bulanan…..”.(105)

 

(IP09),”… makin rame di lingkungan sini,… RT cukup tahu identitas yang kos aja (132)… kan iuran bulanan yang ada usahanya beda mbak…….(137).”

 

Persepsi terhadap hambatan yang dirasakan guna melakukan pencegahan mengacu pada karakteristik dari pengukuran sebuah tindakan seperti merepotkan, menyakitkan, atau tidak menyehatkan. Berikut ilustrasi percakapan yang di ungkapkan oleh informan atau partisipan terkait dengan hambatan ( perceived benefit) yang di rasakan  pada masalah persepsi seks pranikah di kalangan mahasiswa di kos – kosan:

 

(IP03)”… masalahnya di RT saya banyak gitu….(047)”.

 

”… gak negor sih bu,…. Gak enak soalnya.(069)..harusnya lingkungan itu buu yang harus bertindak(075)...lingkungannya ya memang boleh begitu-begitu sudah biasa…(076

 

(IP07)”… gak enak temen kan nanti dikira ikut campur masalah orang,…(070)”.

 

Cara pandang seseorang dapat juga mempengaruhi pengambilan keputusan  terhadap masalah yang dihadapi, sehingga dapat menimbulkan gejolak  dan ketidaknyamanan pada dirinya dalam bersikap.

 

(II01)”Tapi kalo diluar ya saya gak tahu yang penting tidak disini…. Apes ntar buat saya bu, anak – anak sekarang kan lebih berani…. Apalagi film sekarang sama internet itu banyak (121)”.

 

Efikasi diri juga mempengaruhi seseorang dalam mengatasi hambatan atau mencapai tujuan:

 

(IP05),”……………. Alhamdulillah karna rumah pak RT gak jauh jadi suka kontrol juga sih mbak (280)…………kos-kosan yang ini kan dekat pos jadi kalupun ada kejadian apa-apa kelihatan sih (199).”

 

Partisipan melakukan penolakan dengan membuat alasan yang tidak menyinggung serta memperkuat tingkat kepatuhan kepada perintah orang tua sebagai wakil Tuhan.

(IP02)”… pacaran aja di depan ibunya (022) Kalaupun mo ngapa – ngapain ya elah inget almarhumah ibu saya…..(022) Pengennya di rumah aje…..apalagi klo tahu tetangga saya…. Hhmmm harus tahu siapa dia pulang jam berapa dia…..(023)”.

 

Isyarat Untuk Aksi

Cues to action  atau isyarat untuk aksi merupakan suatu bentuk tindakan atau upaya yang digunakan sebagai penguat atau reinforcement eksternal dalam mengimplementasikan peringatan kesehatan pada kejadian seks pranikah dikalangan mahasiswa Akademi Keperawatan menggunakan kos – kosan.

 

(IP04)”… Lingkungan juga buuu…..menurut saya… buktinya banyak temen saya yang milih kos – kosan yang gak terlalu banyak aturan trus klo bisa pinggir jalan.. (040).. Kalo orang tua banget – banget buu. Temen ada yang bilang juga kalo ortunya cuek yaaa dia juga harus cuek(041)...”.

 

(II03)”… media, kami kira faktor lingkungan khususnya teman sebaya merupakan faktor yang memiliki pegaruh besar..(143)”.

 

Pembahasan

Kehidupan sosial wilayah cilandak timur khususnya sekitar lingkungan Akademi Keperawatan x cukup bervariasi

# ShutDown